Solo, 18 Juli 2025, Oleh M. Ivan Afrihansa – Wakil Ketua DPW PSI Lampung, Perubahan adalah bagian penting dari perjalanan politik yang sehat dan dinamis. Dalam Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tahun 2025, partai yang dikenal vokal dalam isu anti-korupsi, pluralisme, dan pembaruan politik ini mengambil langkah simbolik yang bermakna: mengganti logo mawar merah menjadi simbol gajah.
Perubahan ini bukan sekadar rebranding visual, melainkan refleksi dari semangat baru yang sedang dikonsolidasikan oleh PSI—kuat, setia, dan cerdas—tiga karakter utama yang melekat pada filosofi gajah dalam berbagai kebudayaan. Gajah dikenal sebagai makhluk sosial dengan daya ingat tinggi dan solidaritas yang kuat. Begitu pula PSI, yang terus konsisten memperjuangkan integritas dan keberpihakan kepada rakyat.

Tagline Baru, Komitmen Tak Berubah
“PSI: Anti Korupsi, Anti Intoleransi, Merakyat. PSI Bersama Pemerintah, PSI Solusi Politik Masa Depan Indonesia.”
Perubahan logo bukanlah pengabaian terhadap identitas lama, tetapi justru penyempurnaan nilai-nilai perjuangan PSI. PSI tetap menjadi rumah bagi generasi muda yang muak terhadap korupsi, alergi terhadap politik identitas, dan lelah dengan praktik politik transaksional yang membelenggu masa depan bangsa.
Harapan Generasi Muda: Politik Sehat, Bukan Sekadar Gimik
Banyak anak muda hari ini skeptis terhadap partai politik. Mereka menyaksikan bagaimana partai-partai lama terjebak dalam nepotisme, pragmatisme, dan kompromi yang merugikan rakyat. Di tengah ketidakpercayaan itu, PSI hadir sebagai pengecualian—bukan hanya karena usia kadernya yang muda, tetapi karena keberanian dan konsistensinya dalam membela isu-isu publik tanpa takut kehilangan panggung.
Kongres PSI 2025 menegaskan bahwa perubahan bukan hanya simbolik. Perubahan logo disertai dengan penguatan kaderisasi, pembaruan visi politik, serta komitmen untuk memperluas partisipasi publik dalam pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Bersama Pemerintah, Tapi Tetap Kritis
PSI adalah partai pendukung pemerintah, tetapi tidak menjadi “yes man” kekuasaan. Sebaliknya, PSI mengambil peran sebagai mitra kritis—yang memastikan agenda reformasi tetap berjalan dan tidak dibajak oleh kepentingan segelintir elite.
Di tengah banyaknya partai yang mulai kompromistis terhadap korupsi dan intoleransi, PSI tetap berdiri sebagai kekuatan politik yang tegas, jelas, dan berpihak pada nilai.
Penutup: Gajah dan Ingatan Perjuangan
Gajah bukan hanya lambang kekuatan, tetapi juga simbol ingatan. PSI mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk tidak melupakan janji-janji perubahan yang pernah diucapkan para elite politik, dan memperjuangkannya secara nyata bersama PSI.
Melalui tagline dan semangat barunya, PSI menegaskan diri sebagai partai politik yang bukan sekadar alat kekuasaan, melainkan kendaraan perjuangan untuk perbaikan bangsa.











